[Puisi] Siapa Kau?



Siapa kau …?
Wanita yang membuatku jatuh pada kubangan filsafat cinta
membuatku mencari kebenaran hakiki yang tersirat di balik kerudung panjangmu
membuat idealismeku merongrong jalar tapak tilas prasangka perasaan
membuatku hanyut termenung pada tengah malam hening

Siapa kau …?
Kaukah wanita yang dijanjikan tuhan padaku sejak dalam kandungan
Wanita yang akan menjadi tempat berbagi keluh kesah, senang riang dalam rumah tangga kelak.
Wanita yang akan mengandung putra jagoan dan putri srikandiku.

Siapa kau …?
Aku mulai ragu, bertatap mendung pada sikap yang di cerminkan mata bulatmu
Menghantarku pada ketidakpastian cinta dalam kalbuku sendiri
Simpatik yang mulai luntur dari keiklasan
Telah Di bilas keraguan yang mendalam

Ahhhh…
Fikiranku mulai melayang
Menjauh dari realistis
Beralih pada Kebimbangan yang begitu kompleks
Akhirnya ku menggerutu pada meja tulis dengan bayang-bayang prasangka terhadapmu

Benarkah …
Jika Aku harus berpihak pada bayang-bayang semu itu
Bayang semu yang membuat manusia berhati Kotak menyesal di penghujung cerita.
Aku harus bagaimana …?

Sanggupkah aku melawan itu semua
Jangan sampai menjadi barisan manusia yang berhati kotak
Hati keras yang penuh prasangka.

Hmmmmmm…
Haruskah ku mengadu pada Tuhan ?
Duduk bersilah dan sujud di dalam Rumah Sucinya yang Nampak rumah semi surga
Menceritakan semua kekabungan yang melanda manusia malang ini.

Ahhhhhh.

Mana mungkin tuhan mau menemaniku curhat
Aku hanya manusia hina yang tak pernah sujud padanya
Tuhan Akhirnya menertawaiku, sampai air matanya terperah dirungdung ketawa
Apakah aku memang lucu ?
Sampai Tuhan menertawaiku.

Lebih-lebih pada manusia mungking dia akan berguling terbahak-bahak menertawaiku.
Aku berkesimpulan Tuhan tak bisa menyelesaikan masalah hambanya
Tapi hambanya sendiri yang harus menyelesaikan, sesua dengan ayat suci dan termaktub dalam kitab sucinya.
Kembali aku mempertanyakan

Siapa kau …?
Dia menjawabnya “Aku Wanita lugu yang mencintaimu Sepenuh hati, Jika kau ada rasa cemburu terhadapku. Kau sedang cemburu terhadap Tuhan, Sebab Aku lebih mencintai Tuhan di banding kau dan Tuhan lebih mencintaiku disbanding cintamu padaku ”.
Aku tersenyum

Jawabannya mengalahkan Prasangkaku
Cinta Memang sudah seharusnya adil sejak masi dalam fikiran.

Makassar/Minggu, 10 Mei 2015/Pukul:10-22

Post a Comment

0 Comments