Rambut Gondrong Dan Perlawanan Mahasiswa

Banyak Regulasi tanpa landasan Hokum yang jelas kian menggelikan didalam ruang lingkup kampus dewasa ini. Regulasi-regulasi yang seharusnya mewakili kepentingan dan aspirasi mahasiswa tapi justru malah membatasi kebebasan berekpresi dari mahasiswa itu sendiri. Salah satunya adalah larangan terhadap mahasiswa untuk berambut panjang (gondrong).


Sebenarnya Secara umum aturan dilarang gondrong bagi Mahasiswa banyak kita jumpai dari berbagai Perguruan tinggi di Indonesia.

Salah satu contoh teman saya dari Jurusan Teknik Elektro UNM mendapat refresif, dikungkung hak normatifnya dan dilarang mengikuti ujian semester bahkan menjadi buronan dari pihak Birokrasi hanya karena panjang rambutnya melebihi kerah baju kemeja yang ia kenakan. ironis Bukan !

Gondrong mungkin adalah ungkapan bagi mereka yang memiliki rambut panjang terurai dan sedikit urakan, orang gondrong Namun itu semua adalah interpretasi orang-orang indonesia terhadap mereka yang memiliki rambut gondrong dianggap memiliki gaya hidup yang acuh tak acuh serta identik dengan hal negatif layaknya kekerasan.

Namun alangkah baiknya terlebih dahulu kita tau cikal bakal larangan berambut gondrong di Indonesia dan pengaruhnya sampai sekarang merambah kedalam dunia kampus serta dampaknya terhadap Mahasiswa.

Masuknya Budaya Hippies di Indonesia

Hippie, atau hippy, merupakan budaya yang berkembang sejak pertengahan tahun 1960-an mengacu kepada para penganut keyakinan yang memprotes kebijakan politik dan sosial di dekade tersebut. Beberapa menganggap kata ini merupakan variasi dari kata “hipster” dan pertama kali menyebar dari di Amerika Utara. Budaya Hippies yang menjunjung kebebasan individu ini identik dengan rambut Gondrong, dan busana yang lebar dengan warna mencolok.

Budaya hippies sendiri masuk ke Indonesia sejak era Soekarno. Namun Hippies Populer sejak era Orde Baru seiring dengan merambah bebasnya budaya barat masuk ke Indonesia. Soeharto kemudian melarang hippies karena dinilai sebagi gerakan kiri baru yang akan mengancam proses stumulus pembangunanismenya hiingga pada persoalan rambut Panjang hanya karena Persolan erat kaitanya dengan Budaya Hippies.

Orde Baru dan Kebijakan dilarang Gondrong

Keresahan Soeharto mulai memuncak  tahun-tahun 70-an Saat Rambut gondrong menjadi gaya khas anak muda. Kemudia opini public dibuat sedimikian rupa untuk mencap orang-orang berambut gondrong identic dengan criminal, kekerasan dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Atas dasar frame itulah pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan Dilarang Gondrong dan membentuknya BAKOPERAGON (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). Salah satu kebijakannya adalah instansi publik tidak melayani orang-orang gondron.

Aksi anti rambut gondrong oleh pemerintah mulai brutal saat melibatkan Tentara dan Polisi melakukan razia jalanan di alun-alun kota. Orang yang kedapatan berambut gondrong aparat langung mencukur di tempat. razia tersebut sesui dengan target pemerintah bersih rambut gondrong sampai pada tahun 1973.

Munculnya pro kontra dan perlawanan  terhadap kebijakan tersebut saat ABRI (Angkatan Bersenjata Revuplik Indonesia) melakukan razia rambut gondrong terhadap mahasiswa ITB. Dititik inilah mulai ricuh dan terjadi kecaman terhadap kebijakan pelarang gondrong di berbagai Universitas. Mahasiswa kemudian menyerang balik pemerintah dengan isu-isu seperti kesewenangan ABRI, perenggutan kebebasan sipil, eksploitasi negara oleh asing, sampai megaproyek miniatur Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah dan berujung pada tewasnya satu orang mahasiswa. Pergolakan mahasiswa semakin mencuat dan mengancam stabilitas politik Indonesia kedepannya yang hanya berawal dari hal remeh temeh pelarangan rambut gondrong. Setelah itu disusul peristiwa Malari 15 Januari 1974, bentrokan Militer dengan mahasiswa ITB dan berujung pada kebiijakan NKK/BKK.

Gondrong Simbol Perlawanan Mahasiswa

Atas penjelasan diatas kita dapat menarik makna bahwa rambut gondrong bisa menjadi pemantik perlawanan terhadap tirani yang sewenang-wenang mengekang kebebasan berekpresi. Gondrong bukan semata mahkota namun symbol perlawanan bagi Mahasiswa yang ingin kebebasan.

Pelarangngan rambut gondrong kita masih bisa merasakan sampai sekarang didunia kampus Di sejumlah perguruan tinggi, para pimpinan Universitas sudah menyarankan mahasiswanya untuk tidak gondrong, dan kalau tetap memilih gaya tersebut, mereka dipersilahkan memilih pindah ke kampus lain yang menerima gondrong. Bahkan pihak dosen tak segan-segan memberi nilai error kepada mahasiswa yang memiliki rambut gondrong. Tapi tanpa di sadari mereka yang memiliki rambut gondrong cenderung memiliki pola pikir yang matang serta mereka lebih siap dan lebih bisa untuk berinteraksi dengan masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah, jika di bandingkan dengan mereka yang neces kekampus serta memiliki sifat yang akademisis.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa mahasiswa yang bangkit  melawan dan menjadi aktivis harus berambut gondrong, tidak harus dan  tidak perlu begitu. Kalau kita melihat dari gambaran historisnya, rambut gondrong telah menjadi gaya yang dimusuhi penguasa dan diasosiasikan  dengan penentang atau kegiatan subversif. Tidak mengherankan pula, sebagian aktivis mahasiswa telah memilih berambut gondrong sebagai  pilihan untuk menunjukkan perlawanan dan kritik.

Baik secara historis maupun secara sosial, gaya  rambut puya dimensi yang sangat luas, tidak sekedar mahkota di kepala. Tidak hanya gondrong, tapi ada banyak gaya lain untuk menunjukkan identitasi atau bahkan perlawanan.

Salam Mahasiswa Berambut Gondrong

Post a Comment

0 Comments