Tahun kian menuai akhir Kasih
Tak ada senja yang berani tumbang
Hari-hari kian basah
Seperti sudut mata ibu yang getir terlilit rindu dan duka
Saya, mungkin hanya akan berhipotesis dalam tulisan kali ini. Tentunya berangkat dari tolak ukur situasi obyekti yang melingkupinya, melihat fenomena penutur bahasa Pattae dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan.
Pernah jadi peneduh, namun tak meneduhkan
Menjaga, namun tak merasa terjaga
Mencintai, namun tak di cintai
Berkorban, namun tak di hargai
Sudah 11 hari berlalu. Tragedi bencana kemanusiaan yang paling memilukan diantara tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya. Yaitu, gempa 7,4 magnitudo dan tsunami setinggi 2-3 meter, telah meluluh lantakkan Kabupaten Donggala, Kota Palu dan sekitarnya. Pada jumat, 28 september 2018.

Hampir setiap pagi, ketika saya bangun, buah Kersen selalu hadir mewarnai, kala pagi-pagi buta bersambut terang mentari diujung belahan timur bumi semestah. Sampai om saya, namanya Afdal, menganggab buah Kersen itu sebagai sarapan pagi saya, meskipun ungkapan itu sebenarnya adalah bahasa lelucon.
Seminggu yang lalu, penulis sempat mendapat kabar terkait adanya langkah upaya pembebasan lahan Hutan lindung yang berada di sebelah utara pegunungan wilayah desa Batetangnga. Setelah beberapa bulan sebelumnya lahan hutan lindung tersebut juga menuai persoalan terkait adanya oknum penjahat/mafia hutan bersama dengan Pemerintah desa setempat yang melakukan proses Illegal Loging. Kabarnya, sempat di usut sampai ke ranah hukum dan dalang dibalik semuanya sudah terdeteksi. Tapi entah mengapa sebelum melangkah ke proses hukum selanjutnya, laporan tersebut justru malah dicabut oleh pihak pelapor. Tetapi  mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Sebuah kabar miris terdengar dari kampung halaman Desa Batetangnga, bahwa telah terjadi penghacuran Cagar Budaya “Bate Tangnga” salah satu dari “Tallu Bate” yang menjadi bagian penting dari proses sejarah perkembangan masyarakat Pattae khususnya masyarakat Batetangnga.
Saya tidak sengaja melihat meme lewat di branda facebook akun media social milikku. Meme itu berupa poster bertuliskan ‘Merdeka! Loh Aja Kalli’ dengan latar gambar kumuh yang identik dengan kemiskinan. Jelas, itu sebenarnya adalah bentuk sindiran dan protes secara tidak langsung atas konteks yang berbanding terbalik dengan riuh perayaan Hari Kemerdekaan yang ke 73 tahun. seolah bahwa kemerdekaan telah dicapai sepenuhnya. Padahal cacat karena tidak sesuai dengan kondisi materil—jutaan rakyat Indonesia masih berada di dalam lingkaran jerit penderitaan.
Bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia, bulan Ramadhan adalah bulan suci sebagai media pengampunan atas dosa-dosa untuk kembali fitrah—bak bayi-bayi yang baru lahir. Pada bulan Ramadhan, juga pintu surga dibuka lebar sedang pintu neraka ditutup rapat, segala perbuatan amal sholeh mendapat ganjaran amal yang berlipat ganda dan belenggu setan turut diikat erat. Tak lain dan tak bukan, itu adalah kenikmatan bulan suci Ramadhan yang ditawarkan Tuhan kepada hambanya.
Sore telah bersambut malam, ditandai senja mulai berlabuh beriring matahari di upuk barat. Azan magrib berkumandang terdengar dari menara-menara masjid yang menjulang, memanggil jamah untuk berkeluh kesah dalam doa-doa penuh harapan ijabah. Riuh penghuni rumah tekbok kuning di jalan buntu sejenak hening, masing-masing berada pada alam aktualnya. Tunggu sehabis isya, maka pecah suara riuh akan kembali menggema sampai larut malam. Itu sudah menjadi tradisi lama yang kian mengakar menggerogoti selah-selah waktu, tinggal mengisinya dengan hal produktif atau sekedar pada aktivitas statis yang tak berkemajuan. Dua hal itu berangkat dari hari-hari panjang sebelumnya, selalu bertarung memperebutkan keberpihakan waktu antara di isi oleh aktivitas produktif dan statis.
Rupanya musim telah berganti. Pagi ini cerah pertanda langit merestui aktivitas manusia yang bernaung dibawahnya. Tak lagi murkha seperti hari-hari sebelumnya--mendung yang berkelakar petir dan hujan lebat tidak sekedar membasahi tapi menghalangi dengan sombongnya diatas manusia-manusia yang kian getir mengutuknya.
(Sejarah Panjang Perjuangan Mahasiswa)

Pernah suatu hari, sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, saya bersama kawan-kawan mendiskusikan salah satu materi suplemen “Gerakan Mahasiswa: Antara Teori dan Praktek” karya Ernest Mandel. Seusai diskusi, kami bercerita lepas dan salah satu dari kami mengeluarkan pertanyaan guyonan, kira-kira seperti ini: “kita belum tau sebagai mahasiswa, apakah teriakan revolusi akan menggema sampai mati atau sampai skripsi?” seketika saya bersama kawan-kawan yang lain tertawa terbahak-bahak.
Setiap tahun, Peringatan Hari Buku Sedunia selalu di peringati pada tanggal 23 april untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan dan hak cipta yang pertaman kali di cetuskan oleh UNESCO pada tahun 1995. Namun peringatan ini di Indonesia tidak pernah disambut dengan meriah dan bahkan tidak sedikit yang lupa apalagi sampai tidak tau. Kita dapat berspekulasi bahwa ini berbanding lurus dengan sebagian besar masyarakatnya yang malas membaca buku.
Bumi dan manusia adalah sinergitas kehidupan di dunia yang berlangsung jutaan tahun lamanya. Keduanya adalah kesatuan dari segi-segi yang berlawanan dan saling mengisyaratkan. Jika bumi mengalami kerusakan maka akan menjadi ancama bagi manusia, begitupun sebaliknya. Jika manusia tidak berfikir panjang menimbang segala sesuatunya atas keberlangsungan hidup, maka ancaman proses penaklukan bumi adalah hal yang tidak terelakkan lagi dan saat itulah detik kehancuran alam semesta dimulai.
21 april, tiap tahunnya selalu di peringati sebagai hari Kartini. Ia adalah pahlawan perempuan di Negeri ini yang telah menginspirasi jutaan perempuan demi kebebasan dari kungkungan dan kekangan tradisi lama yang membatasi ruang gerak perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Menjelang tahun politik pemilu Legislatif dan Presiden 2019 yang tinggal beberapa bulan lagi membuat suasana politik nasional sampai ke daerah semakin memanas. Partai politik sebagai kendaraan politik telah melakukan Berbagai manufer politik untuk menggalang dukungan calon tertentu mulai dari pencitraan dengan menggunakan sintemen agama, memanfaatkan moment tertentu untuk menarik simpati massa, sampai pada kampanye hitam dengan saling menggembosi, menggoreng isu tertentu untuk menjatuhkan lawan politik. Namun itulah wajah konstelasi politik di Indonesia yang tanpa prinsip, fundamentalis mendadak liberal dan liberal mendadak fundamentalis. Para Intelektual berlagak bego dengan mengkategorikan partai Allah dan partai setan tak lain untuk memobilisasi dukungan, dan masih banyak lagi.
Sekitar seminggu yang lalu, kerukunan keluarga pelajar mahasiswa Batetangnga (KKPMB) telah mengalami loncatan kualitatif yang cukup signifikan sebagai dinamika tahunan organisasi dalam ruang lingkup pergantian pimpinan dan pengurus lama oleh pimpinan dan pengurus baru yang dipilih secara musyawarah mufakat dalam musyawarah besar.