Setiap tahun, Peringatan Hari Buku Sedunia selalu di peringati pada tanggal 23 april untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan dan hak cipta yang pertaman kali di cetuskan oleh UNESCO pada tahun 1995. Namun peringatan ini di Indonesia tidak pernah disambut dengan meriah dan bahkan tidak sedikit yang lupa apalagi sampai tidak tau. Kita dapat berspekulasi bahwa ini berbanding lurus dengan sebagian besar masyarakatnya yang malas membaca buku.
Bumi dan manusia adalah sinergitas kehidupan di dunia yang berlangsung jutaan tahun lamanya. Keduanya adalah kesatuan dari segi-segi yang berlawanan dan saling mengisyaratkan. Jika bumi mengalami kerusakan maka akan menjadi ancama bagi manusia, begitupun sebaliknya. Jika manusia tidak berfikir panjang menimbang segala sesuatunya atas keberlangsungan hidup, maka ancaman proses penaklukan bumi adalah hal yang tidak terelakkan lagi dan saat itulah detik kehancuran alam semesta dimulai.
21 april, tiap tahunnya selalu di peringati sebagai hari Kartini. Ia adalah pahlawan perempuan di Negeri ini yang telah menginspirasi jutaan perempuan demi kebebasan dari kungkungan dan kekangan tradisi lama yang membatasi ruang gerak perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Menjelang tahun politik pemilu Legislatif dan Presiden 2019 yang tinggal beberapa bulan lagi membuat suasana politik nasional sampai ke daerah semakin memanas. Partai politik sebagai kendaraan politik telah melakukan Berbagai manufer politik untuk menggalang dukungan calon tertentu mulai dari pencitraan dengan menggunakan sintemen agama, memanfaatkan moment tertentu untuk menarik simpati massa, sampai pada kampanye hitam dengan saling menggembosi, menggoreng isu tertentu untuk menjatuhkan lawan politik. Namun itulah wajah konstelasi politik di Indonesia yang tanpa prinsip, fundamentalis mendadak liberal dan liberal mendadak fundamentalis. Para Intelektual berlagak bego dengan mengkategorikan partai Allah dan partai setan tak lain untuk memobilisasi dukungan, dan masih banyak lagi.
Sekitar seminggu yang lalu, kerukunan keluarga pelajar mahasiswa Batetangnga (KKPMB) telah mengalami loncatan kualitatif yang cukup signifikan sebagai dinamika tahunan organisasi dalam ruang lingkup pergantian pimpinan dan pengurus lama oleh pimpinan dan pengurus baru yang dipilih secara musyawarah mufakat dalam musyawarah besar.