Bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia, bulan Ramadhan adalah bulan suci sebagai media pengampunan atas dosa-dosa untuk kembali fitrah—bak bayi-bayi yang baru lahir. Pada bulan Ramadhan, juga pintu surga dibuka lebar sedang pintu neraka ditutup rapat, segala perbuatan amal sholeh mendapat ganjaran amal yang berlipat ganda dan belenggu setan turut diikat erat. Tak lain dan tak bukan, itu adalah kenikmatan bulan suci Ramadhan yang ditawarkan Tuhan kepada hambanya.
Sore telah bersambut malam, ditandai senja mulai berlabuh beriring matahari di upuk barat. Azan magrib berkumandang terdengar dari menara-menara masjid yang menjulang, memanggil jamah untuk berkeluh kesah dalam doa-doa penuh harapan ijabah. Riuh penghuni rumah tekbok kuning di jalan buntu sejenak hening, masing-masing berada pada alam aktualnya. Tunggu sehabis isya, maka pecah suara riuh akan kembali menggema sampai larut malam. Itu sudah menjadi tradisi lama yang kian mengakar menggerogoti selah-selah waktu, tinggal mengisinya dengan hal produktif atau sekedar pada aktivitas statis yang tak berkemajuan. Dua hal itu berangkat dari hari-hari panjang sebelumnya, selalu bertarung memperebutkan keberpihakan waktu antara di isi oleh aktivitas produktif dan statis.
Rupanya musim telah berganti. Pagi ini cerah pertanda langit merestui aktivitas manusia yang bernaung dibawahnya. Tak lagi murkha seperti hari-hari sebelumnya--mendung yang berkelakar petir dan hujan lebat tidak sekedar membasahi tapi menghalangi dengan sombongnya diatas manusia-manusia yang kian getir mengutuknya.
(Sejarah Panjang Perjuangan Mahasiswa)

Pernah suatu hari, sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, saya bersama kawan-kawan mendiskusikan salah satu materi suplemen “Gerakan Mahasiswa: Antara Teori dan Praktek” karya Ernest Mandel. Seusai diskusi, kami bercerita lepas dan salah satu dari kami mengeluarkan pertanyaan guyonan, kira-kira seperti ini: “kita belum tau sebagai mahasiswa, apakah teriakan revolusi akan menggema sampai mati atau sampai skripsi?” seketika saya bersama kawan-kawan yang lain tertawa terbahak-bahak.