[Cerpen] Rumah Tembok Kuning di Jalan Buntu (Chapter 1)

Rupanya musim telah berganti. Pagi ini cerah pertanda langit merestui aktivitas manusia yang bernaung dibawahnya. Tak lagi murkha seperti hari-hari sebelumnya--mendung yang berkelakar petir dan hujan lebat tidak sekedar membasahi tapi menghalangi dengan sombongnya diatas manusia-manusia yang kian getir mengutuknya.

Fajar mulai menyingsing masuk lewat celah-celah jendela, hangat sinarnya melenyapkan sisa-sisa dingin subuh. Alarm jam dari luar berbagai sudut kamar, berdengung dan berbunyi dengan nada yang berbeda-beda. Terdengar begitu jelas karena dinding pembatas kamar terbuat dari triples yang tebalnya hanya berkisar 1 inchi. Namun, seperti itulah cara penghuni rumah tembok kuning di jalan buntu menyambut pagi.

***

Aku masih tergolek diatas kasur yang terbilang cukup empuk. Grafitasinya begitu kuat, membuatku sulit cepat begegas bangun. Sebab, aku baru membelinya sebulan yang lalu, jadi rasanya masih ingin bermalas-malas berbaring diatasnya.

Tiba-tiba terdengar petikan gitar disertai nyanyian sembilu yang cukup pilu. Kedengarannya aneh dan lucu, sebab masih pagi begini sudah ada yang menggalau gulana. Dengan rasa penasaran, aku beranjak dari pembaringan--kali ini mengabaikan tawaran kasur empuk untuk berlama-lama diatasnya.

Aku berjalan tergopoh-gopoh, kemudian perlahan membuka pintu kamar--berharap tak diketahui. Suara nyanyian sendunya kian keras, sedang rasa pilu melalui petikan gitarnya menghujam telinga.

Aku perlahan berjalan menuju balik jendela, kudapati celah dan kulihat rupanya nyanyian sendu beriring petikan gitar--ketukan dua yang melo itu, berasal dari Markus--anak muda yang berbulu dan sedikit menggelitik bagi orang yang pertama kali melihatnya.

Markus sebenarnya cukup tampan dan berkarisma. Namun sering gagal dalam percintaan--selalunya di tinggal pergi tanpa sebab yang pasti, maka kegalauannya memang sering disiratkan dalam nyanyian dan petikan gitar. Aku fikir iya belum mampu memaksimalkan ketampanannya itu. Seperti halnya Luffy yang belum mampu memaksimal Haki hombuiske dalam film kartun One Piece.

"Hei! Apa mubikin disitu sundala?", dia memukul jendela dan membuatku kaget. Rupanya dia tau, sedari tadi aku tengah memperhatikannya.

"Hahaha, galaumi seng anakmudayya, Woyyy masi pagi-pagi ini sambarang!", Tanggap aku menjawab dan tertawa terbahak-bahak.

Aku bergegas keluar lewat pintu dan menghampiri. Rupanya ia ditemani secangkir kopi pahit yang mencerminkan kepahitan cintanya dan hisapan rokok surya menggambarkan kefrustasiannya.
Sungguh kasian sekali anak muda ini, hampir setiap kisah percintaan yang dilakoni selalu saja dipecundangi oleh wanita.

"Masih ada rokokmu kah?", Tanyaku ingin merokok.

"Ini sundala! Lima batang mami itu", sontak ia memberikan rokoknya.

Aku nyalakan rokok, kuhisap, dan kurasa hentakan asapnya cukup menendang dinding paru-paru, maklum rokok surya. Lalu sambil kupandangi raut wajahnya, masih tersisah bekas air mata yang berkaca-kaca. Mungkin tadi aku merusak suasana, dimana ia tengah dalam puncak selir hatinya yang mengaung-ngaung dalam untaian nyanyian dan petikan gitar, aku malah hadir mengganggunya.

"Galauki cika a?", Tanyaku ingin memastikan.

"Iya nert! Wanita semuanya sama saja!", jawabnya dengan nada tinggi.

Rupanya hatinya sedang kalut stadium empat---kalau dalam penyakit kangker ia adalah borok yang sulit disembuhkan. sampai-sampai sifat semua wanita ia generalkan. Sungguh malang nasib anak muda ini.

"Janganki bilang begitu cika, masih banyakji kapank wanita baik-baik diluar sana, hanya saja belumpi mudapat. Berdoa mako saja, perbanyak Istigfar", aku menanggapi dan sedikit menasehati.

Melihat raut mukanya mulai memerah dan matanya kembali berkaca-kaca. Aku langsung mengalihkan pembeciraan.

"Nert! Ikut jako konsolidasi sebentar malam toh di sekrenya buruh", tanyaku semoga dapat mengubah suasana.

"Bah! Ikut ja" jawabnya dengan nada tak bersemangat.

Kuhisap rokokku dengan durasi sedikit cepat, sambil meneguk kopi pahit miliknya. Kemudian aku bertanya-tanya dalam hati; siapa gerangan wanita telah membuatnya seperti  itu?, Mungkinkah wanita yang berparas Arab, berhidung mancung, yang pernah iya ceritakan dulu?. Kalau memang wanita itu yang dimaksud--mahasiswa UMI, maka wajarlah Markus berduka lara jika kehilangannya. Bagaimana tidak, wanita itu memang cantik bukan kepayang, idaman para lelaki kekabungan.

Disisi lain, Markus sebenarnya pendiriannya tegar dan tetap dalam hal ideologi. Sebab ia juga seorang aktivis kampus--sosok yang banyak dikenal dikalangan aktivis di Kota Makassar. Namun entahlah, tak setegar dalam urusan asmara.

Dan waahhh, rupanya rokok yang kuhisap sudah sampai pada hisapan terakhir.

"Kekamarkuka pale dulu saya nert a, lanjut mako main gitar dan nikmati kegalauanmu anak muda", aku pamit kekamar dengan nada ngeledek.

***

Kutengok jam kenangan--jam weker pemberian mantan, berada diatas meja. Rupanya sudah menunjukkan pukul 09.02 . Tinggal satu jam kurang 2 menit lagi, aku harus berada di kampus--konsul skripsi dengan dosen pembimbing. Dan sebenarnya aku malas ketemu dengan dosen itu, sebab ada beberapa alasan. Tapi karena desakan ibunda tercinta agar secepatnya sarjana, aku harus memaksakan diri, padahal ekspektasinya aku takut sarja, takut jadi pengangguran.

Syahdan, kurapikan setiap kusut yang terlihat pada kasur dan tikar dikamarku. Sebenarnya Itu juga sudah menjadi kebiasaan dari sejak kecil--hati tak tenang kala melihat sesuatu yang kusut dan sesegera mungkin merapikannya. 

Ini kelainan yang belum pernah dipecahkan medis. Tapi entahlah yang jelas tidak mengganggu aktivitas keseharianku, justru mala menguntungkan.

Kembali aku menengok jam, rupanya tinggal 40 menit lagi aku harus berada di kampus dan jam sudah menunjukkan pukul 09.20 . Jadinyapun kalang kabut, waktu untuk sementara aku pertuhan, segala perintah efisiensi waktu aku lakukan tergesah-gesah.

Segera mungkin aku menghidupkan mesin pompa air yang usianya cukup tua dan ini pula jadi masalah, sebab daya tarikan airnya tidak lancar--membutuhkah waktu cukup lama menunggu agar bak air dapat terisi penuh.

Aku akhirnya menunggu bak terisi penuh. Agar tak jenuh, sejenak aku keluar rumah menghirup udara pagi kemudian masuk kembali. ehhhh kampret, tiba-tiba saja ada yang mendahului aku masuk kamar mandi dan rupanya si Markus.

"Anassuntili ini!, dari tadi kapank saya tunggui bak air terisi penuh, keluarja sebentar, masukka lagi, ehhh ada mako didalam. Keluarko sundala, saya dulu karena natunggui maka dosenku dikampus", ujarku dengan nada jengkel.

"Sabarko cika, demi iparmu ini, kayaknya saya bakal balikan lagi sama dia. Jadi isinkan saya duluan madi kanda, dan kauji tadi nasehatika, jadi seharusnya kau dukungka. Setedak mukasi duluanka mandi, mauka ketemua secepatnya", tanggapnya dengan sedikit ngeledek.

"Kampret loh", teriakku.

Tapi benar juga kata dia tadi. Tidak papalah kali ini aku mengalah saja. Meskipun tidak sepenuhnya ikhlas, sebab urusan skripsi bisa jadi tertunda lagi untuk hari ini. Tapi apa boleh buat, ini demi perjungan cinta seorang kawan.

Dalam kebosanan menunggu, aku kemudian duduk dikursi, menikmati kejengkelan pagi ini. Tak sengaja kutengok westapel, rupanya piring kotor kembali menumpuk, padahal perasaan tadi malam semuanya habis aku cuci.

"Markus!!! sapa tumpuk itu piring kotor banyak sekali?, kenapa tidak kau suruh makan sama piring saja kalau tidak bisa cuci piring?", Tanyaku agak tegas karena kejengkelanku makin tersulut.

"Nanak kayaknya tadi malam datang bawa makanan banyak sekali baru makan rame-rame", menjawab agak mual-mual sebab sambil gosok gigi.

Aku heran dengan kebiasan itu, kenapa dari dulu tidak bisa di cut, padahal sudah ada poster pernyataan 'cuci piringta kalau sudah makan, karena tidak ada bos disini', tapi sebagian dari mereka pura-pura buta dan tuli. Yang lebih parah, sampah makanannya ia taro di meja. Entah apa difikiran mereka, aku rasa itu adalah mental penjajah yang sudah seharusnya di buang jauh.

"Woi!!! Masuk mako mandi, selesaima", teriaknya.

Setelah sekian lama saya menunggu, akhirnya mandi juga.

"Sallo duduko kongkong", ujarku.
Akhirnya aku mandi, kemudian bergegas kekampus.

Pada akhirnya dosen itu php juga-ia tidak hadir dikampus dengan alasan lagi kerja proyek. "Dasar dosen proyek", seruku dalam hati.

Lengkap sudah kejengkelan hari ini, namun tetap aku dapat menarik hikmahnya, walaupun tak bermakna apa-apa setidaknya menjadi bagian pengalaman.

***
Bersambung...

(Catatan: cerpen ini punya beberapa chapter, dan silahkan tunggu chapter selanjutnya. Sebab di chapter one ini baru satu karakter yang di ceritakan dari sudut pandang orang pertama).

Post a Comment

0 Comments