[Cerpen] Rumah Tembok Kuning di Jalan Buntu (Chapter 2)

Sore telah bersambut malam, ditandai senja mulai berlabuh beriring matahari di upuk barat. Azan magrib berkumandang terdengar dari menara-menara masjid yang menjulang, memanggil jamah untuk berkeluh kesah dalam doa-doa penuh harapan ijabah. Riuh penghuni rumah tekbok kuning di jalan buntu sejenak hening, masing-masing berada pada alam aktualnya. Tunggu sehabis isya, maka pecah suara riuh akan kembali menggema sampai larut malam. Itu sudah menjadi tradisi lama yang kian mengakar menggerogoti selah-selah waktu, tinggal mengisinya dengan hal produktif atau sekedar pada aktivitas statis yang tak berkemajuan. Dua hal itu berangkat dari hari-hari panjang sebelumnya, selalu bertarung memperebutkan keberpihakan waktu antara di isi oleh aktivitas produktif dan statis.

Hari ini berlalu dengan segala tenaga yang disalurkan pada aktivitas dan kesibukan. Masih menyisahkan butir-butir kejengkelan dalam suana kampus siang tadi. Namun sebelumnya, sejak pagi genderang prahara memang telah ditabuh. Mulai dari hal ikhwal kisah cinta Markus yang memilukan dan tumpukan piring kotor--maklumat dari para penganut mental penjajah, hingga gagalnya bertemu dengan dosen pembimbing dalam urusan skripsi--penyelesaian study. Semuanya berkecamuk dalam benak malam ini.

***

Kupandangi cermin, bersolek seadahnya. Kukenakan bajuh kokoh pemberian mantan dan kupasang peci hitam dikepala. Kemudian bersimpuh menunaikan kewajiban lima waktu. Dalam doa-doa kupanjatkan agar ketenangan jiwa selalu direstui dan segala aktivitas setelahnya berharap di ridhohi.

Syahdan, tiba-tiba handphone aku berdering. Kuperhatikan, rupanya yang menelpon adalah teman kampus namun tak kuangkat. Berdering kedua kalinya, masih tak kuangkat. Berdering ketiga kalinya, baru aku angkat dan mungkin ada hal penting yang ingin ia sampaikan.

"Halo, ada apa cika?", Tanyaku mengawali pembicaraan via handphone.

"Ayo pergi nongkrong di kupi abi, banyak nanak disana", jawabnya dengan harap.

"Maaf maaf mami ini cika nda bisaka, ada agendaku sebentar", aku kembali menanggapi.

"Oh iya pale, dimengerti", dengan nada kecewe menutup telponnya.

Tadi itu yang menelpon adalah teman kelas aku dikampus, namanya Rais. Ia mengajakku untuk ngopdar, tapi aku menolaknya dengan alasan sebentar ada agenda padahal tidak ada. Alasannya, sebab malam ini entah kenapa sedikit malas bercengkrama dengan orang-orang. Justru menyibukkan diri denga hal-hal diluar kebiasaanku--berdiri tegap di jendela menatap tanpa arah dan kosong. Seolah fikiran ini berkabut sehingga menghalangi proses berfikir diluar logika.

Dalam suasana yang serba kosong, perlahan di isi oleh riuh macam-macam bising suara dari segala sudut rumah tembok kuning ini.

Dilantai bawah terdengar music barat, mengawali pecahnya hening malam ini. Asalnya pasti dari kamar lantai bawah pojok paling depan, dan sesekali terdengar pekikan nyanyian suara terbatah-batah mengikuti irama music. Siapa lagi kalau bukan si kanda 'Kecewwang'. Kebiasaanya memang seperti itu yang terkadang membuat nyiyir penghuni lain ketika volume sound musicnya kelewatan keras. Disisi lain, karakter kanda satu itu  cukup mengasikkan juga. Bagaimana tidak hal ikhwal dalam setiap pertemuan rapat KKPMB yang diadakan jika dalam keadaan buntuh dan tegang, ia selalu hadir bak juru selamat dalam memberikan solusi yang cukup solutif dan membuat goyonan agar ketegangan dalam rapat dapat diminimalisir. Memang itu salah satu keahliannya.

Dalam waktu yang bersamaan, dilantai dua paling depan. Terdengar pula suara bebepa penghuni sedang berdiskusi. Entah pembahasannya apa, namun biasanya perihal suputar kondisi kampung halaman menjelang tahun politik. Kadang juga pembahasan remeh temeh seputar romantisme yang syarat seksisme. Dan terakhir, paling sering main domino atau kartu yang di selah-selahnya dibumbui guyonan dan kelucuan antara penghuni, yang membuat pecah suara ketawa kemana-kemana.

Kendati demikian, ada hal yang patut disayangkan--kebiasaan-kebiasan produktif telah lama hilang, entah apa sebabnya. Namun, akibatnya cukup nampak dirasakan.

Kebiasaan produktif itu adalah tradisi intlektual--kajian kontenporer untuk menempah nalar kritis sebagai seorang mahasiswa khususnya penghuni rumah ini.
Aku masih ingat. Empat tahun lalu. Awal-awal dimana aku tinggal di rumah ini, tradisi intlektual itu masih rutin dilaksanakan setiap minggu dan itu menjadi pengalaman berharga yang sulit untuk kulupakan. Baru dua tahun belakangan ini, tradisi itu hilang entah berantah. Mungkin digeser oleh kebiasaa-kebiasaan statis bersama demoralisasi akut yang kian menjangkiti pribadi-pribadi penghuni rumah ini.

"Ahh! Namanya juga proses dinamika, setiap masa pasti akan tergantikan tergantung kekutan materil apa yang mendominasi yang berpeluang menggesarnya. Toh, rupanya bergeser juga pada kemunduran", seruku dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara samar seolah memanggilku: "Wajhain!?" tapi tak kuhiraukan, kufikir hanya perasaanku saja.

Tak lama kemudian, suara itu kembali memanggilku. Kedengarannya cukup jelas bahwa seseorang memang sedang memanggil. Refleks, aku menoleh ke pintu kamar, rupanya tengah berdiri seorang anak muda berpenampilan nyentris semi necis. Kelihatannya sedikit sangar dengan rambot gondrong yang terurai berantakan tapi berhati Hello Kitty. Namanya Cypank, ia penghuni kamar sebelah.

"Wajhain! Apa lagi kau ratapi itu dibalik jendela?", bertanya dengan nada menggelikan.

"Ahhh! Kau pale gondrong, saya kira sapa tadi panggil namaku. Ada apakah?",

"Jawab sai dulu pertanyaanku, apa nubikin disitu jendela?",

"Kepomu cowot hahaha. Biasa, ini lagi meratapi hal-hal yang musti diratapi terkait jalan panjang hidup", dengan nada risih dan tertawa aku menjawabnya.

"Ohhh! Anu ini nert, mau orang adakan diskusi besok, ini juga bagaimana kembali merefleksi rutinitasa diskusi yang sudah lama tidak pernah diadakan di sini rumah, karena napertanyakan senior-senior soal itu, 'apakah aktivitas diskusi itu masi jalan' makanya nadesakka supaya inisiasi lagi itu diskusi supaya berjalan", jelasnya.

"Bahhhh! Bagus itu, terus?", tanggapku mengiakan.

"Bisako bisako jadi pemantiknya, temanya itu 'Membangun kembali tradisi Itlektual mahasiswa', bisaji a?", Pintanya.

"Bahhh! Bisaji", jawabku mengiakan lagi.

Perihal itu, baru saja memberatkan fikiranku tadi. Ehhh... Ternyata tuhan diam-diam memperhatikan dan spontan menjawab memberi solusi, hanya saja melalui sigondrong ini.

"Ok pale, besok malam nah jam 8", lalu ia kekamarnya.

"Ok bosku".

Apa yang disampaikan Cypank tadi, semoga saja menjadi titik awal kembalinya tradisi itu menjadi rutinitas mingguan, dari pada tiap harinya hanya berkutat pada aktivitas statis yang tak berkemajuan itu.

Hmmm... Ini malam harus aku siapkan materi pemantiknya. Pastinya berbicara beberapa point itu: Membaca, diskusi, menulis, berorganisasi, dan berjuang. Kemudian menjadi tantangan tersendiri untuk mengubah pola fikir kebiasan lama yang telah lama tergeser dan kembali di pantik dan diperbaharui. Namun, prosesnya kita lihat saja besok.

***

Bersambung...

(Catatan: Cerpen ini punya beberapa chapter, dan silahkan tunggu chapter selanjutnya).

0 komentar:

Post a Comment