[Puisi] Pelupuk Mata Hati

Pernah jadi peneduh, namun tak meneduhkan
Menjaga, namun tak merasa terjaga
Mencintai, namun tak di cintai
Berkorban, namun tak di hargai

Seperti menjadi gemerisik daun kering menyadarkan bahwa semesta tak berpihak
Seperti daun kerontang terseret angin, terhempas pada pukulan telak berujung luka

Adakah secercah harapan lagi?
Saat tulus di persamakan dengan debuh
Di permainkan, lalu di celupkan pada lumpur hitam

Tidak!
Sama sekali tidak!
Manusiaku bukan bui yang gemerlap di deras air terjun
Disanjung keindahannya dalam hempasan yang menyakitkan

Cukup aku menengadah dalam sore mendung ini
Kuputuskan berbaring mata terpejam
Agar saat bangun, bahagia di pelupuk mata hati.

Makassar, 22 Oktober 2018

Post a Comment

0 Comments