[Puisi] Desember-Nanti


Tahun kian menuai akhir Kasih
Tak ada senja yang berani tumbang
Hari-hari kian basah
Seperti sudut mata ibu yang getir terlilit rindu dan duka

Di bawah rindang pohon angsana
Kita berdiri kehilangan kepala
Berikrar perihal pesta melawan senja
Kita ke timur saja, katamu
Ke barat, aku menyerga
Diam, kehampaan digerayai doa yang menari penuh gairah

Sesaat kemudian
Bulan menjerit menemui panggilan
Kita yang tak menuntaskan apa-apa-terlahap metafora
Metafora yang sebenarnya adalah lara tahun sebelumnya

"Sekiranya kau paham jam, waktu untuk sebuah penantian, Sayang" katamu.

O nanti
Bersuka luka dalam Nanti Desember kembali

Makassar, 25 Desember 2018

Karya: Windi Mawardani
(Mahasiswi Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar).

Sumber gambar: rajapena.org

0 komentar:

Post a Comment