[Cerpen] Gugur Sebelum Bertemu Jawaban


Ikrar janji yang diikat seutas tali kesetiaan mencapai titik kerapuhannnya. Tak lagi mampu menahan gempuran kontradiksi dalam hukum dialektika yang menjeratnya. Sehingga, negasi sebagai proses akhir mengantarkan pada puncak kualitas--seperti kutukan akhir disetiap cerita dalam ruang dan waktu.

Mencoba menoropong peristiwa kalut di januari kelabuh--penuh genangan kenangan. Meskipun buih-buih permadani tak lekang arti, keadaan sejatinya memaksa menggores luka lama yang hampir kering.

***

Senja, kala itu, dibibir pantai Pare-pare, bulan januari 2017. Hari dan tanggalnya masih kokoh terpatri dalam ingatanku, kamis, tanggal 18 sebagai langkah mengakhiri cerita yang penuh kesombongan.

Diselah-selahnya, terlihat dari arah barat, awan gelap pekat mendekat, napas angin berhembus, dan debur ombak keras menghempas menjadi saksi serta mengantarkan kutukan.

"Maaf, hubungan ini berakhir sampai disini, aku sudah lelah dengan segala tindak tandukmu yang menghianati ketulusanku selama ini, kuikhlaskan kau beranjak bersama pria itu!," Kusampaikan tanpa keraguan sedikitpun. Dan, mungkin menjadi getir baginya di bulan januari.

Lalu, Syifa kutinggal sendiri diguyur penyesalan atas dosa-dosa hina masa lalunya. Aku beranjak pergi, beriringan hujan sebagai penanda bahwa detik penghapusan kenangan harus mulai didentumkan.

***

Hari berlalu, dibawah pohon temaram samping rumah, aku berfikir dan menyadari ternyata umum memandang bahwa setiap perjalanan kisah dalam koridor upnormal, diujungnya ada upaya kiat kembali normal. Namun, prosesnya punya dinamika khusus, seperti yang kurasakan, selalu mengingat kenangan dalam proses melupakan. Saat itu pula terkadang aku berfikir untuk kembali merajut kisah tambal sulam itu... "Ya Tuhan, kenapa Syifa selalu ada dalam fikiranku..."

Untuk mengimbangi fikiran yang sedang kacau, rasanya ingin menikmati suana piknik. Dan, kebetulan untuk sementara, aku berada di kampung menghabiskan masa libur kuliah selama dua pekan.

Kampungku yang diapit tiga bukit hutan produktif dari sisi timur, barat dan utara; menyuguhkan beberapa tempat untuk berwisata, meskipun wisata tersebut dikelolah secara pribadi oleh beberapa keluarga yang kental tradisi feodalistiknya, bagiku tak pantas selain karena proses pembangunannya mengabaikan analisis dampak lingkungan jangka Panjang. Tapi apa boleh buat, kran pundi-pundi uang selalu menjadi tuhan kedua, bahkan ada yang menjadikannya tunggal.

Rasa penasaran ingin menikmati dan menyaksikan langsung suasana wisata tersebut, kuputuskan untuk beranjak dari duduk manis dan meluncur ke lokasi.

***

Diperjalan, aku singgah sejenak di warung, membeli rokok dan mengisi bensin motorku yang jarum peringatan bahan bakar dalam lingkar spidiometer sudah menunjukkan error.

Tiba-tiba, dari arah jalur kiri jalan menuju lokasi wisata, kulihat pemuda dengan kemeja kotak-kotak melaju dengan kecepatan 40 KM/jam. Parasnya lagi ceria sedang berbicara dengan perempuan berjilbab yang tengah ia bongceng. Aku tidak mengenal siapa pria itu, tapi perempuan yang diboncengnya bagiku tidak asing.

Sigap aku membuntuti, rupanya perempuan yang dibonceng pemuda tersebut adalah Syifa—perempuan yang pernah sangat berarti mengisi relung hatiku, meskipun dibabak akhir cerita menyisahkan pilu amat pedih.

“mungkin pria yang sedang bersamanya itu adalah selingkuhannya, saat aku masih menjalin hubungan dengannya?”, tanyaku dalam hati penuh penasaran.

Setelah sampai di lokasi wisata, rupanya pengunjung sangat ramai, parkiran juga penuh, sehingga beberapa pengunjung memarkir kendaraannya dijalan utama yang membuat perjalanan petani untuk menyambangi kebun sebagai penghidupan utama jadi terhambat.
Masalah tersebut adalah masalah kelabu yang tidak pernah tercarikan solusinya oleh pemilik wisata, bahkan pemerintah desa setempat hanya diam seribu bahasa.

“ah…tadi pasangan kampret itu kemana yahh!”, gerutuku dan bingung mencari tempat kosong untuk parkir motor.

Setelah aku temukan parkiran yang pas untuk motor bututku—motor Suzuki Smash keluaran 2008, kemudian berjalan ditengah keramaian pengunjung mencari pandang pasangan yang aku buntuti dari tadi.

“hei…kamu lagi apa disini bro?”

“eh… Ardan, ini lagi cari yang segar-segar untuk dipandang mata, soalnya bosan dirumah terus”

“Ah… alasan, tumben kamu nongkrong ditempat yang beginian, biasanya juga kalau pulang kampung nongkrongnya selalu di rumah baca lentera biru”.

Ardan adalah temanku, kebetulan dua hari yang lalu aku bersamaan pulang kampung dari makassar. Dia datang berkunjung ke wisata dengan keluarganya, katanya liburan dulu sebelum bertarung dengan padatnya aktivitas kuliah minggu depan.

Kami berdua juga ngobrol terkait rencana pemerintah desa yang ingin membuat gerbang desa dengan tulisan diatasnya ‘Desa Wisata’ yang berbanding lurus dengan tumbuh pesat pembangunan titik-titik wisata. Dan, kesannya hanya mewakili kepentingan kelompok tertentu—hanya  mereka yang punya bisnis wisata.

Setelah ngobrol panjang lebar, tiba-tiba mataku tertuju pada perempuan yang memperhatikanku diatas gazebo sewaan pengunjung yang harganya 150 ribu. Matanya tajam memandangku, seolah mengirim isyarat ingin beradu mulut. Dia berjalan menghampiriku…

“Plakkkk… dasar laki-laki tidak bertanggung jawab, kau tinggalkan aku disaat kau titipkan segumpal darah yang menjadi beban aib seumur-umurku. Terlalu cepat berpaling dengan pandangan kehinaan berlibahan”, Syifa menamparku dengan emosi yang menggebuh-gebuh, menggerutu dengan maksud yang membuatku bingun dan bertanya-tanya, sedangkan Ardan mengerti ini masalah pribadi, dia langsung pergi tanpa pamit.

“Maksud kamu apa? Jangan kau limpahkan persoalan hina dina itu padaku, setelah jelas-jelas kau sendiri yang membukakan pintu pamit dengan bersanding dengan laki-laki lain", aku menanggapi.

“Dasar laki-laki egois, tak bertanggung jawab! Kaca mata kuda. Cuihhhh…” Syifa meludahiku tepat diwajahku, seolah terlalu hina dimatanya.

Syifa kemudian pergi dengan tangis yang tersenduh-senduh, sedangkan aku hanya diam seribu bahasa. Kulihat laki-laki yang memboncengnya sudah menunggunya di parkiran, mungkin dari tadi dia juga menyaksikan perbicaraanku dengan Syifa.

Aku kemudian duduk di gazebo, merenungkan maksud cacian Syifa yang belum aku mengerti dengan gamblang, terutama maksud kalimat segumpal darah. Mungkinkah dia hamil saat aku memutuskan meninggalkannya dulu? “Ya Tuhan… masalah apa lagi ini”.

Setelah lama duduk di gazebo menyaksikan para pengunjung yang bergembira ria menikmati wahana wisata, aku kemudian pulang kerumah, sebab suana wisata hari ini kufikir dapat menenangkan fikiran, justru malah setuasinya menambah beban fikiran yang baru.

***

Seminggu berlalu, setelah pertemuan dengan Syifa dilokasi wisata yang menuai percekcokan ditengah keramaian itu masih menyisahkan pertanyaan besar yang belum menemui jawabannya.

Sebenarnya, aku tidak pernah mencari jawabannya seminggu belakangan ini dengan usaha dalam bentuk tindakan. Aku hanya mengurung diri dan membiarkan pertanyaan itu menari didalam fikiranku sampai bosan. Hingga akhirnya, kemarin sore setelah aku menceritakan semuanya pada Ardan terkait kejadian di lokasi wisata tersebut—percekcokan antara aku dengan Syifa. Ardan menyarankan agar aku mencari jawabannya dengan menemui dan berbicara langsung dengan Syifa secara empat mata. Dan, aku iakan.

Setelah memikirkan hal itu, aku mengirim pesan via sms kepada Syifa yang isinya “Aku ingin ketemu dengan kamu sebentar sore, jam empat di pantai bahari”. Aku menunggu balasan sms-nya tapi tak dibalas.

“mungkin pesannya dibaca, tapi sengaja tidak dibalas dan tetap akan datang menemuiku seperti pesan ajakan yang telah aku kirimkan”, pikirku dalam hati dengan feling yang optimis.

***

Hari sudah soreh, jam menunjukkan pukul 15.00 wita. Aku kemudian bersiap-siap dan bergegas menuju pantai Bahari.

Sesampainya, jam sudah menunjukkan pukul 16.00. aku menunggunya ditanggul sambil memperhatikan nelayan yang tengah bersiap berlayar untuk menangkap ikan menggukan kapal bagang.

Tiba-tiba dari belakang aku disapah seorang laki-laki…

“Anwar kan…?”

“Iya benar… anda siapa?” aku menanya balik.

“Aku Bima… maaf hari ini Syifa tidak bisa menemuimu, dia hanya menetipkan ini ke kamu”, Dia menyodorkan surat undangan pernikahan kepadaku, kemudian langsung pergi.

Kuperhatikan dari jauh, ternyata dia datang bersama Syifa, hanya saja Syifa tak mau menemuiku.

Kuperhatikan undangan itu. Aku kaget ternyata undangan pernikahan yang dia berikan adalah undangan pernikahan Syifa dengan Bima yang akan dilangsungkan bulan depan di Kota Barru yang mungkin kampung halaman Bima sendiri.

Aku kemudian pulang dengan perasaan kecewa belum mendapatkan jawaban itu.

***

Sebulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa dia telah melangsungkan pernikahannya berdua. Tapi, sejak aku diberikan undangan pernikahannya di pantai Bahari sebulan yang lalu, yang aku sendiri tidak turut hadir. Aku tidak lagi ingin mencari tau jawaban itu. Aku menganggab hubungan dengan Syifa sudah gugur sepenuhnya dengan lembar cerita yang biasa-biasa saja. Seperti mawar hitam yang biasa-biasa saja saat gugur, tidak seperti saat masih mekar dan semerbak.

Selesai...

***

(Maaf yahhh untuk para pembaca budiman jika cerpen ini jelek, soalnya saya masih pemula dalam menulis cerpen. jadi, harap dimaklumi yahh.. hehehe)

Sumber gambar: dewiku.com

Post a Comment

0 Comments