[Cerpen] Kisahku Dengan Tamalah


"Selalu ada teduh ditengah terik", begitulah aku memandang setiap perjalanan hidup yang pada umumnya ditempuh oleh manusia yang merasa kering akan cinta. Cinta pada khususnya adalah jalinan kasih antara dua insan manusia. Aku pernah merasakan terik itu. Dan, itu adalah beban yang menyiksa.

Terik, kuartikan sebagai kekosongan pada masa-masa sulit ditengah kecemburuan melihat lingkungan yang mengkerdilkan manusia-manusia yang enggan berdamai dengan masa lalu yang kelam.

Hingga pada masanya telah tibah, peneduh yang kueluhkan selama setahun akhirnya muncul membawa titah penghapusan belengguh kelam masalalu, dan mengisinya dengan kebahagiaan.

Bahagia itu bernama Tamalah. Perempuan anggung, cantik, dan periang; memiliki lesung pipi, gigi yang gisul, dan wajah disudut dagu yang runcing membuat seketika dia tersenyum, sungguh menawan--mengalihkan dunia para kaum adam yang tengah haus cinta.

Aku berani bertaruh bahwa Tamalah tidak kalah cantik dengan Annelis--perempuan separuh Jawa separuh Eropa yang di gambarkan Pramodya dalam novelnya Bumi Manusia. Atau, Layla dengan matah indah yang segelap malam dalam kisah kuno Jazirah arab; yang membuat Majnun bersimpuh tiap malam agar Tuhan meridhahi cintanya pada Layla. Bahkan, tidak kalah cantik dengan putri-putri kayangan dalam cerita-cerita Mahabrata, sungguh betapa cantiknya Tamalah dalam kisahku sendiri.

***

Bermula dari pertemuan tak sengajah di toko buku Pelangi Ilmu yang berada disudut kota Makasar, jalan Malengkeri.

Waktu itu, aku mampir hanya sekadar untuk melihat-lihat stock novel terbaru. Awalnya, tidak ada niat untuk membeli, tapi tidak sengaja aku melihat buku yang selama ini aku cari-cari, Ibunda novel roman sejarah karya Maxim Gorki. Berada di rak pojok paling atas. Dan, stoknya tinggal satu.

Novel tersebut menceritakan seorang ibu yang hidup diperkampungan buruh ditengah suramnya kehidupan rakyat Rusia yang miskin dan dipenuhi ketakutan dibawah kekuasaan Tsar menjadi latar belakang dari kisahnya.

"Mas, novel ini harganya berapa yah?"

"Seratus limah puluh ribu dek"

"Buset, mahal amat mas?"

"Iya dek, itu novel langkah, banyak yang cari. Tahun ini pertama kali masuk toko kami sebanyak sepuluh eksemplar, itupun sekarang hanya tinggal satu eksemplar, jadi adek ini beruntung", menjelaskan dengan sedikit kesal.

"Santai mas, gak usah ngegas, hehehe."

Aku kemudian membelinya. Meskipun agak berat hati, karena menurut temanku yang berada di Jogja harganya hanya limah puluh ribu. Tapi, wajar dimaklumi, toko buku di Makassar memang jualannya mahal-mahal.

Setelah proses transaksi, aku kembali melihat buku-buku yang lain sambil menenteng novel yang baru saja aku beli.

"Mas, novel Ibuda karya Maxim Gorki masih ada tidak? Soalnya kata temanku kemarin stocknya masih ada dua eksemplar", sambil fokus memperhatikan buku-buku, kudengar perempuan menanyakan ke kasir terkait novel yang sama baru saja aku beli.

"Wahhh... Maaf, stocknya baru saja kosong. Terakhir dibeli sama pria yang disana", yang dimaksud penjaga kasir itu aku.

"Hehehe, untung aku datang lebih awal, andaikan tidak, perempuan tersebut yang dapat", kataku dalam hati dengan tetap fokus memperhatikan buku-buku, tanpa ingin tau siapa perempuan tersebut yang menanyakan novel yang sama.

"Permisi, maaf mengganggu", perempuan itu menyapaku dengan nada yang lembut.

Akupun menoleh kebelakang... "MasyaAllah... mimpi apa aku semalam, siang bolong ini disapa oleh bidadari", aku tercengang didepannya. Diam sejenak memandangnya. Kemudian...

"Ia, ada yang bisa saya bantu."

"Gini, kata mas yang dikasir itu, katanya kamu yang beli stock terakhir novel Ibunda..."

"Oh iya, tadi aku dengar kok pembicaraanmu dengan mas kasir itu."

"Kita duduk dulu disana yah"

Ia mengajakku duduk dikursi baca yang dari awal memang telah disediakan oleh pihak toko buku, seolah ada yang ingin ia sampaikan serius denganku.

Kami kemudian duduk berdua. Kuletakkan buku diatas meja. Dan, sesekali dengan sinisnya kulihat penjaga kasir mencuri pandang mata ke kami, mungkin mas itu berfikir beruntunggnya aku bisa diajak ngobrol serius oleh perempuan cantik yang namanya saja belum aku tau.

"Sebelumnya, kenalkan nama aku Andi Tamalah Sari, atau panggil saja aku Tamalah", sambil menyodorkan tanganya, akupun menjabatnya.

"Muhammad Fadil, sapaan Fadil"

Setelah kami berkenalan,  kemudian masuk pada pembicaraan inti, tanpa basah-basih sebelumnya.

Ternyata Tamalah sangat membutuhkan novel Ibunda. Sudah seminggu ia keliling mencari novel Ibunda disetiap toko buku yang berada di kota Makassar. Ia juga sudah pesan di Jogja, tapi sudah dua minggu bukunya belum sampai-sampai. Padahal, kegiatan kajian buku di komunitas literasinya yang kebetulan mengangkat tema 'Maxim Gorki dan Roman Sejarah Ibunda'' akan berlangsung tiga hari kedepan. Hingga akhirnya, ia mendapat informasi dari temannya bahwa stock novel tersebut ada di toko buku Pelangi Ilmu.

"Gimana kalau novel kamu aku beli dengan harga dua kali lipat, ayolah..."

Aku hanya diam, tengah asyik memandang wajah ayunya. Lesung pipinya semakin dalam ketika senyum, menonjolkan gigi gisulnya, memohon agar aku menjual novel tersebut.

"Plisss, atau aku tambah dua kali lipat... Tiga kali lipat deh... Ayolahhhh."

"Maaf aku tidak bisa menjual, soalnya novel ini langkah. Banyak dicari oleh para pecandu aksara".

Ia kemudian sedikit merajuk tapi tetap memohon agar aku menjual.

"Huhhh, dasar laki-laki tidak pekah. Gadis cantik sudah memohon-mohon, masa gak dikasih. Kapan lagi gadis secantik itu ada yang memohon-mohon sama kau", mas penjaga kasir itu ikut nimbrung dengan nadah ngeledek.

"Begini, aku tetap tidak akan jual, tapi aku bisa pinjamkan sampai selesai kamu baca dan kaji dikegiatan literasimu."

Saking senangnya ia menjabat tanganku sambil diayun-ayunkan " ya Tuhan... Baru pertama kali ini ada perempuan cantik senang sekali aku bantu, mungkinkah perempuan ini kelak engkau jadikan penededuh bagiku."

Novel itu kemudian aku pinjamkan, dan dimasukkan kedalam tasnya. Ia juga meminta kontak whatsapp punyaku dan berharap pada kegiatan nantinya aku turut hadir.

Sejak pertemuan itu, hariku mulai ceriah. Tuhan memberikan sinyal bahwa perempuan itu kelak akan menjadi payung peneduh disetiap langkah-langkahku. Dalam hatiku berkata "kita lihat saja nanti, kau akan jatuh cinta padaku."

***

Selama tiga hari, setelah pertemuan tak terduga di toko buku Pelangi Ilmu, aku masi tidak habis pikir bisa bercengkrama dengan gadis darah jelita yang menyandang gelar nama Andi itu. Parasnya selalu terngiang dalam pucuk fikiran. Mungkin ini yang dinamakan kasmaran. Beda tipis dengan gila. Hanya saja polah 'senyum-senyum sendiri' yang mencolok sebagai batas demarkasinya; membuat tetap sadar dalam perasaan aneh. "Ya Tuhan, aku jatuh cinta pada gadis berlesung pipih itu."

Tak lama kemudian, muncul pesan notifikasi whatsapp di handphone punyaku. Ternyata pesan itu dari Tamalah. Ia mengingatkan bahwa malam nanti aku harus hadir dikegiatan kajian buku Ibunda yang ia selenggarakan; "Hadir yah sebentar malam di kegiatanku di baruga kassi-kassi jam 8", isi pesannya.

Jam menunjukkan pukul 6 sore. Aku sigap bersiap-siap dengan tampilan maksimal. Kukenakan baju kemeja kotak-kotak dengan warna biru keungu-unguan dengan dipanelkan celana jins. Sepatu pentopel andalanku di smear agar kelihatan kinclong.

"Mau kondangan ya kak" adekku menanggapi styleku.

"Gak lah, ini lagi mau ketemuan kakak iparmu, hehehe", balasku bercanda.

"Huhhhh, dasar."

Kulihat diriku dalam cermin, betul juga kata adekku, kayak mau kondangan saja. Tapi biarlah, bertemu pujaan hati, senjata pria memang harus tampil coll dan maksimal.

Tak disangka-sangka hujan pun turun, seolah tak merestui jalannya proses aktivitasku malam ini.

"Maaf Ta... Aku mungkin sampainya telat, soalnya hujan", aku kirim pesan whatsapp.

Setelah pesanku dibaca, ia kemudian menelpon.

"Halo Ta..."

"Daerah situ hujan yah?"

"Iya Ta...hujan deras"

"Sharee lokasi di whatsapp yahh, nanti aku jemput" telponnya putus, mungkin jaringan tidak stabil karena hujan deras.

Aku mengirim lokasi alamatku di jl. Syekh Yusuf, Kompleks Kodam Katangka Blog G22.
Berselang sepuluh menit, kulihat ada pengendara mobil Toyota Yarris warna silver parkir didepan rumah. Kuperhatikan, ternyata Tamala yang nyetir. Aku kemudian menghampiri dan disuruh masuk.

"Gak mampir dulu Ta...?"

"Lain kali aja Dil, soalnya acaranya dah mau mulai. Kita jalan yah", aku hanya mengangguk malu.

Baru kali ini aku di jemput seorang perempuan. Rasanya bagai orang penting saja, padahal hanya buku novel aku pinjamkan, aku diperlakukan layaknya pangeran.

Dalam perjalanan, aku hanya diam memperhatikannya sementara menelpon dengan entah siapa, aku tidak tau. Sepertinya dia sedang memarahi seseorang. "Gadis ini kalau marah tetap cantik juga yahhh", kataku dalam hati.

"Nanti setelah kegiatan, temani aku ke bandara yah. Aku mau jemput mamah dari Jerman."
"Iya Ta..." Aku hanya menaggapi seadanya.

Fikiranku mulai menduga-duga. Tamalah mungkin anak orang kayah. Orang tuanya saja baru dari Jerman, sedangkan mobil yang ia kendarai sekarang, termasuk mobil mewah, Toyota Yarris yang masi baru. Kira-kira harganya 400-an juta.

Aku mulai putus asah bisa memilikinya, mana pantas aku dengan perempuan secantik dia, apalagi ia anak orang kaya. "Ya Tuhan".

***

Setelah sampai dilokasi, kami berjalan beriringan memasuki ruangan. Ada sekitar 200-an orang yang hadir dengan berbagai latar belakang organisasi, semuanya adalah pegiat literasi. Penulis-penulis handalpun pasti turut hadir, fikirku.

Di spanduk, terpampang bebera komunitas literasi yang ikut berkolaborasi menyukseskan kegiatan ini; ada komunitas Pecandu Aksara, Mata Pena, Lentera Baca, Cara Baca, Kala literasi dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan kesemuanya satu persatu, yang pasti beberapa komunitas tersebut telah melahirkan penulis-penulis handal di kota Makassar.

Rupanya, aku tidak menyadari. Berjalan beriringan dengan Tamalah memasuki ruangan menjadi sorotan mata di kamera siaran langsung di layar atas panggung. Aku jadi malu dan meminta Tamalah agar aku duduk dibelakang saja.

Aku juga baru tahu, Tamalah termasuk orang paling penting dikegiatan ini, ia adalah salah satu pemantik dari tiga pemantik dalam kegiatan kajian buku dengan tema 'Maxim Gorki dan Novel Ibunda'.

Syahdan, kegiatanpun berlangsung dengan meriah. Diawali pembacaan Profil ketiga pemantik. Dan, akupun sekali lagi baru tahu ternyata Tamalah lahir di kota Berlin, Jerman Timur. Ia kuliah di Universitas Hasanuddin tepatnya di fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Barat Roman (Prancis). Satu-satunya perempuan yang pernah menjabat sebagai ketua BEM Fakulta Ilmu Budaya UNHAS. Terakhir dia selaku ketua komunitas Mata Pena Makassar, menjabat sampai sekarang.

Selama proses acara kegiatan berlangsung sampai berakhir, aku hanya terfokus pada kekagumanku terhadap latar belakang perempuan yang mulai aku jatuh hati padanya. Namun sekali lagi, justru hal itu bagiku tidak mungkin bisa memilikinya.

"Dil.. gmana... Tadi kajiannya seruh kan?"

"Iya Ta... Aku kagum sama kamu" aku mengatankanya malu, namun sungguh-sungguh.

"Ahhh biasa aja Dil... Yuk kita pulang, tapi singgah dulu makan cotoh yah."

"Iya Ta..." Aku menjawab seadanya.

Kamipun pulang dan singgah menikmati hidangan cotoh Makassar di Jl. Pettarani. Diselah-selahnya kami ngobrol seolah sudah kenal sejak lama, begitu akrabnya.

Betapa beruntungnya aku bisa mengenal gadis ini, apalagi jika aku bisa memilikinya dalam jalinan kasih "ya Tuhan aku sujud syukur."

"Oh iya Ta... Jadi tidak ke bandara?"

"Gak jadi Dil, mamah tadi dijemput sama sopir"

Dari pernyataannya, aku semakin memastikan bahwa memang dia adalah keluarga orang kaya nan terpandang, sampai-sampai punya sopir pribadi.

Setelahnya, Tamalah mengantarku pulang.

***

Hari berlalu, kamipun sering bertemu; mulai dari ngobrol yang produktif sampai ngobrol biasa-biasa saja. Kami juga rutin bertemu dalam dua kali seminggu untuk sekadar jalan-jalan. Sedangkan hal-hal yang serius, kami selalu bertukar wawasan dalam khasanah diskusi kontemporer seputar literasi dan isu-isu kemanusiaan dan kerakyatan.

Setelah sebulan lebih melalukan rutinitas pertemuan, tentu benih-benih cinta adalah buah pasti. Aku mengungkapkan perasaanku padanya hingga akhirnya kami jadian, setelah melalui perjuangan amat pelik merebut hatinya.

Tuhan telah menjawab doa hambanya yang bersungguh-sungguh.

***

Setahun berlalu, kami menjalin hubungan, tentu paradigma dalam memandang hubungan harus lebih maju. Bukan sekadar tolak ukur rasa semata, tapi melangkah pada pola pikir serius, jenjang karir dan pernikahan. Lagian sebulan yang lalu, aku dan Tamalah hamper bersamaan wisuda; Tamalah wisuda di UNHAS, seminggu kemudian aku wisuda di UNM. Sudah seharusnya seorang sarjana berfikir demikian.

Tapi takdir berkata lain, nyatanya pernikahan diundur jauh sebagai pilihan paling buncit bagi Tamalah. Karier adalah hal utama. Seperti pemikiran barat, dan memang dia keturunan orang barat. Aku hanya menuruti keinginannya.

Setelah sarjana, aku kemudian kerja sebagai guru Teknik Informatika di SMP Negeri 2 Makassar, sambal berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan Study di pascasarja. Sedangkan Tamalah, membawa kabar gembira sekaligus sedih. Tamalah diterimah kuliah S2 di Jerman Timur, tepatnya di Universitas Berlin mengambil jurusan Ilmu Sastra.

Sejak saat itu kami berdua harus menerima kenyataan, bahwa cinta kami akan diuji oleh jarak waktu. Mental kami harus dilatih agar mampu menebas ruang, sehingga rasa saling percaya satu sama lain tetap optimis.

Sehari sebelum keberangkatan Tamalah ke Jerman, kami bertemu untuk yang terakhir kalinyaa ditempat pertama kalinya kami bertemu; di toko buku Pelangi Ilmu. Diambang perpisahan itu aku tau tamala pura-pura tegar. Ia mengunci air matanya agar tak berderai. Sedangkan aku yang tak bisa menahan sedih disuasanah piluh, aku menangis tersenduh-senduh, sehingga membawa suasana Tamalah ikut menangis, dan memelukku dengan erat.

Kami kemudian duduk dibangku baca…

“Ta…hari ini terakhir kita bertemu untuk waktu lama mungkin kita akan bertemu lagi. ini buku catatan harianku, berisi perjalan kisah atas dasar pandanganku selama kita menjalin kasih selama satu tahun lebih. Aku titip jagah di kau, kuharap kau membacanya disaat kau sedang marasa sedih di negeri sana.”

“Iya Dil…aku akan menyimpannya dengan baik. Dan aku juga ingin memberikan sesuatu untukmu. Ini adalah naskah cerita perjalanan cinta kita dari sudut pandangku. Kuharap kau memebaca dan menambah yang perlu ditambahkan. Setelahnya, terbitkanlah jadi novel agar cinta kita abadi dibaca oleh pembaca budiman. Oh iya Dil, jangan lupas selalu berkabar yahhh”.

“Iya Ta…” jawabku seadanya saja.

***

Keesokan harinya, Tamalah berangkat ke Jerman ditemani oleh Ibunya. Dan, sejak saat itu, kami harus menanggung sesak bersamaan di detik-detik perpisahan.

Lama aku merenungkannya, kuambil naskah pemberiannya. Disampulnya tertulis; “Terkadang manusia lupa bahwa diantara terik dan teduh selalu ada hujan menggambar perpisahaan sesaat, sebagai ujian yang telah menjadi hokum organic dalam setiap cerita manusia sejak berada di bumi”, aku tersenyum membaca pesannya, rupanya Tamalah selalu lebih unggul dibandingkan aku dalam hal kedewasaan.

Tiba-tiba Tamalah mengirim pesan whatsapp; “Aku janji akan kembali.”

-Sekian-

***
Catatan: Cerpen ini adalah fiksi belaka dari imajinasi liar penulis

Sumber gambar: mistyskyblog.wordpress.com

Post a Comment

0 Comments